Selasa, 09 Oktober 2012

Persahabatan yang Tulus dengan Allah SWT



Oleh : Masagus Fauzan Yayan, SQ Pengasuh Rumah Tahfidz Kiai Marogan

Masagus Fauzan Yayan

“Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’rafa. Fa khalaqtu al-khalqa li kay u’raf” (Hadist Qudsi)

Apa makna persahabatan manusia dengan Allah SWT? Interaksi atau hubungan timbal balik antara Allah dengan manusia dan sebaliknya antara manusia dengan-Nya. Tentu saja, persahabatan ini tidaklah sama dengan persahabatan antarsesama manusia yang sejajar dan setara. Bersahabat dengan Allah dibingkai dalam kesadaran kita sebagai makhluk dan Dia sebagai khaliq (pencipta). Atau kita sebagai hamba (‘abid) dan Allah sebagai Rabb (yang disembah).

Rasulullah SAW telah menuntun kita cara menjalin persahabatan yang tulus dengan Allah SWT lewat doa yang diajarkan beliau kepada Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah:

“Kalaupun aku sabar menanggung beban-beban penderitaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu, dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan Kau ceraikan aku dari kekasih dan sahabatmu...



Kalaupun aku, wahai Ilah-ku, tuanku, sahabatku dan Rabb-ku, sabar menanggung siksa-Mu, bagaimana kudapat sabar menanggung perpisahan dengan-Mu ... Kalaupun aku dapat bersabar menanggung panas neraka-Mu,bagaimana kudapat bersabar dari melihat kemuliaan-Mu ...”



Sebuah munajat yang begitu indah dan intim dari seorang sahabat (manusia) kepada sahabatnya yang agung. Jadi, meskipun posisi manusia dengan Allah SWT tidak setara, hal itu tidak menghalangi keduanya menjalin persahabatan yang erat. Bukankah persahabatan juga dapat dijalin erat antara karyawan dan direkturnya atau antara majikan dan bawahannya?

Berlandaskan persahabatan (friendship) dan cinta (love), ibadah kita pun tak lagi seperti budak yang ketakutan atau bak pedagang yang selalu menghitung-hitung imbalan. Ali bin Abi Thalib pernah menuturkan ada tiga tipe orang yang menyembah Allah SWT:

Pertama, orang beribadah karena mengharapkan balasan. Ibadahnya merupakan investasi masa depan (future). Orientasinya untung-rugi. Semakin banyak ia menjalankan ritual-ritual keagamaan semakin banyak pula imbalan dari Tuhan yang akan diterimanya. Imam Ali menyebutnya ibadah para pedagang, pebisnis.

Kedua, orang menyembah Tuhan karena takut pada siksa-Nya. Ibadah mereka sama seperti pengabdian seorang budak kepada tuannya. Ia melakukan segala tugas yang dibebankan karena khawatir mendapat murka sang majikan bila ia melanggarnya. Ia membayangkan Tuhan ibarat Sang Pemurka yang siap menghukum hamba-Nya yang mengabaikan perintah Dia. Orang seperti ini biasanya menjalankan ibadah hanya untuk menggugurkan kewajiban.

Ketiga, orang beribadah karena ia sadar memang seharusnya beribadah. Imam Ali menyebutnya ibadah orang merdeka. Ibadah yang dihiasi cinta dan ketulusan. Dari mana cinta yang tulus itu datang? Dari rasa syukur. Dari rasa terima kasih yang mendalam. Ibadah betul-betul menjadi bentuk syukur seorang hamba kepada Sang Pemberi Kehidupan.

Siti Aisyah bercerita bagaimana Nabi Muhammad SAW bangun di tengah malam. Ia terus menerus beribadah sambil tiada henti-hentinya menangis, mencucurkan air mata. Sampai-sampai para sahabat bertanya mengapa Nabi harus beribadah seperti itu? Bukankah Allah SWT telah mengampuni seluruh dosanya yang dahulu maupun yang kemudian? Nabi berkata: “Bukankah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Metode Bersahabat
Berikut ini sebuah metode menjalin persahabatan yang tulus dengan Allah SWT, di antaranya:

Berusaha mengenal Allah SWT. “Awwaluddin ma’rifatullah: Pilar pertama agama adalah mengenal Allah.” Begitu jargon yang populer di kalangan para sufi. Simaklah hadist qudsi berikut ini yang maknanya: “Aku adalah perbenda-haraan yang terpendam. Aku cinta untuk diketahui. Maka Aku ciptakanlah alam semesta.” Melalui hadist ini kita dapat memahami bahwa Tuhan merindukan perkenalan manusia terhadap diri-Nya (ma’rifah).

Ada dua cara untuk mengenal Allah SWT. Cara yang pertama, kata Imam Al-Ghazali, tidak memadai dan yang kedua dinamakan tertutup. Cara pertama dengan menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat serta membandingkannya dengan apa yang kita ketahui dari diri kita sendiri.

Sedangkan cara kedua, lanjut Hujjatul Islam Al-Ghazali, cara yang tertutup yakni menunggu mencapai sifat-sifat mulia (Ilahiyah) sampai yang bersangkutan menjadi seorang ‘mulia’ persis seperti seorang anak menunggu sampai dia menjadi matang untuk mengalami kenikmatan bersebadan.

Selalu berzikir mengingat Allah SWT. Sebagaimana kata sebuah pepatah, “Siapa yang mencintai seseorang ia akan banyak menyebut namanya,” maka Allah SWT akan senang apabila manusia mengingat nama Dia sebanyak-banyaknya. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al-Ahzab: 41)



Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ja’far ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Seberat-berat amal itu tiga macam: menginsyafi (mengadili) diri sendiri, membantu saudara dengan harta dan zikir kepada Allah.”

Muadz bin Jabal ra berkata: “Tiada amal yang dapat menyelamatkan anak Adam dari siksa Allah seperti zikir kepada-Nya.” Fudhail bin Iyaadh berkata: seorang datang berkata: nasehatilah aku. Fudhail berkata: “Ingatlah daripadaku lima macam: Pertama, semua yang mengenai dirimu, maka katakanlah: itu qadhaa’ dari Allah, supaya engkau tidak menyalahkan makhluk. Kedua, jagalah lidahmu supaya semua makhluk selamat dari lidahmu dan engkau selamat dari siksa Allah. Ketiga, percayalah pada janji Tuhan mengenai rezeki supaya menjadi seorang mukmin. Keempat, bersiap-siaplah untuk mati supaya tidak mati dalam keadaan lupa. Kelima, berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya terjaga dari dosa-dosa.”

Nabi Musa as berkata: “Ya Rabbi, bagaimanakah saya akan mengetahui orang yang kamu cinta daripada orang yang kamu benci (murka)? Jawab Allah: Hai Musa, jika Aku cinta pada hamba, maka aku beri padanya dua tanda. Musa bertanya: Apakah keduanya itu? Jawab Allah: Aku ringankan ia berzikir kepada-Ku supaya Aku berzikir kepadanya di alam malakuut langit dan bumi, dan Aku pelihara dari yang haram dan murka-Ku, supaya tidak terkena murka dan siksa-Ku. Hai Musa, dan sebaliknya, jika Aku benci pada hamba maka aku beri dua tanda. Aku lupakan dari zikir-Ku, dan Aku biarkan ia dengan hawa nafsunya supaya terjerumus dalam haram dan murka-Ku, sehingga layak menerima siksa dan balasan-Ku.”

Ketahuilah, kata Abul Laits, zikir (zikrullah) kepada Allah SWT itu mengandung lima macam kebaikan: Kesatu, tanda keridhaan Allah SWT di dalamnya; kedua, menambah kerajinan berbuat taat; lalu ketiga, terlindung dari setan selama berzikir; keempat, melunakkan hati dan kelima adalah mencegah dari maksiat.

Meneladani sifat-sifat Allah. Nabi SAW bersabda: “Berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah.” Bagaimana cara mencontoh akhlak Allah? Akhlak-Nya terkandung dalam Asmaul Husna (nama-nama terindah-Nya), seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim (pemurah dan penyayang). Allah SWT mendorong manusia sebagai sahabat-Nya agar berusaha meniru dan mencontoh sifat dan nama Allah tersebut.

Sungguh, mereka yang telah mendekat kepada Dia, ikut memiliki arti nama-nama Allah dengan tiga cara: Pertama, mengetahui arti-arti ini melalui penyaksian dan penyingkapan sehingga realitas-realitas esensialnya menjadi jelas bagi mereka melalui hujjah yang tak mungkin salah. Mereka mengetahuinya melalui penyingkapan yang sama jelasnya dengaan kepastian atau keyakinan yang dirasakan orang akan sifat-sifat batiniahnya sendiri yang dia ketahui dan melihat sisi batiniahnya, bukan dengan esensi lahiriah.

Kedua, disingkapkannya untuk mereka sifat-sifat agung sehingga penghargaan tinggi mereka ini membuat mereka mendambakan memiliki sifat ini dengan setiap cara yang mungkin bagi mereka, pada gilirannya mereka akan semakin mendekati kebenaran dalam kualitas, bukan dalam tempat. Dengan memiliki sifat-sifat seperti itu, mereka menjadi sama dengan para malaikat yang telah diciptakan untuk dekat dengan Allah SWT.

Ketiga, berupaya mendekatkan apa saja di antara sifat-sifat yang mungkin didapat, karena dengan cara seperti ini manusia menjadi agung dan mulia -- yaitu dekat dengan Allah SWT, dan dengan demikian menjadi sahabat para malaikat (al-mala’ al-a’la) karena mereka dekat dengan Allah SWT. (Al-Maqshad Al-Asna Fi Syarh Asma’ Allah Al-Husna: Imam Ghazali, Cambridge 1992).

Malaikat adalah makhluk mulia. Mereka sangat dipercaya oleh Tuhan untuk menjalankan segala perintah-Nya. Semua pekerjaan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Seberat apapun pekerjaan yang diberikan kepada mereka akan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Prinsipnya tunggal. Hanya mengabdi kepada Allah SWT.

Selain itu mereka juga menjunjung tinggi kesetiaan, bekerja tanpa kenal lelah. Pekerjaan tuntas, disiplin dalam menjalankan tugas. Keteladanan yang bisa didapat dari sifat malaikat secara umum adalah kepercayaan yang dimilikinya, loyalitas dan integritasnya yang sangat mengagumkan. “(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Ia mengabulkan permohonanmu (sambil berfirman), “Akan kutolong kamu dengan seribu malaikat beriring-iringan.” (QS Al-Anfaal 9). (ESQ: DR (HC) Ary Ginanjar Agustian, 2001).

Sebelum mengakhiri tulisan ini penulis mengutip pesan yang indah disampaikan Imam Ghazali: “Ketahuilah, sahabat yang tak pernah berpisah denganmu entah dalam keadaan diam, bepergian, tidur, bahkan dalam hidup dan matimu adalah Tuhan penciptamu. Selama engkau mengingat-Nya, niscaya Dia menjadi teman dudukmu. Allah adalah teman duduk bagi orang yang berzikir kepada-Nya.

Apabila engkau betul-betul mengenali-Nya, niscaya engkau akan menjadikan-Nya sebagai sahabat dan niscaya engkau akan meninggalkan yang lainnya. Jika engkau tidak mampu melaksanakan hal itu setiap waktu, sediakan waktu pada malam dan siang hari untuk kau pergunakan bermesraan (khalwat) bersama Tuhan dan merasakan kenikmatan bermunajat kepada-Nya.”

--------------------------------------------------------------------------
Sriwijaya Post - Jumat, 18 November 2011 08:36 WIB
---------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Posting Komentar