Jilbab Lebih Menjaga Dirimu

Jilbab, apa sih manfaatnya? Banyak wanita yang menanya-nanyakan hal ini karena ia belum mendapat hidayah untuk mengenakannya. Berikut ada sebuah ayat dalam Kitabullah yang disebut dengan “Ayat Hijab”. Ayat ini sangat bagus sekali untuk direnungkan. Moga kita bisa mendapatkan pelajaran dari ayat tersebut dari para ulama tafsir. Semoga dengan ini Allah membuka hati para wanita yang memang belum mengenakannya dengan sempurna. Allah Ta’ala berfirman:

Pintu Doa

Ya Amirul Mukminin, mengapa doa kami tidak diijabah, sedangkan Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an bahwa ‘ud’uuni astajib lakum’ (berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan doamu)?" Mendengar pengaduan yang demikian, Ali bin Abi Thalib pun balik bertanya kepada orang tersebut, "Apakah sudah kaujaga pintu-pintu doamu?"

Air Mata Ketakutan

Ketakutan apakah yang dapat membuat Abdurrahman bin Auf menangis tersedu-sedu? Ini teijadi ketika para sahabat berkumpul dengan Abdurrahman bin Auf untuk menghadiri sebuah undangan di rumah beliau. Setelah makanan terhidang di hadapan mereka, sontak Abdurrahman bin Auf mena¬ngis. Seorang sahabat kemudian bertanya, "Kenapa kau menangis, wahai Abdurrahman?"

Melepas Cinta Karena Harta

Hiduplah sepasang suami istri yang bahagia. Istrinya yang cantik dan salihah bernama Fauziah binti Abdullah. Suaminya yang tampan bernama Salam bin Sufyan. Semua orang menilai mereka pasangan ideal yang taat beribadah walau keadaan ekonomi mereka biasa saja. Mereka adalah pasangan yang sabar menanti rezeki dan segala hal yang diatur oleh Allah.

Cinta Tak Bertepi

Kisah Paling Sedih Yang Memotivasi - Berikut kisah atau cerita sedih yang dapat memotivasi Anda dalam menjalani kehidupan berumah tangga, Kisah mengharukan atau kisah sedih ini tentang perjalanan cinta seorang istri yang tak pernah mencintai suaminya selama 10 tahun perjalanan pernikahannya hingga sang Suami meninggal dunia, dan akhirnya ia menyadari betapa besar cinta dan kasih sayang yang diberikan sang suami untuknya selama ini.

Sabtu, 23 Februari 2013

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 2)

Disebutkan dalam riwayat lain, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Andaikata orang yang ada di dalam neraka Jahannam atau penghuni neraka itu, dikeluarkan tangannya kepada penduduk dunia, niscaya terbakarlah dunia karena sangat panasnya api neraka itu."


Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Allah SWT pernah memerintahkan Malaikat Jibril pergi kepada Malaikat Malik untuk mengambil sedikit dari api nereka, dan memberikannya kepada Nabi Adam, agar dengan api itu, ia dapat menanak. Maka pergilah Malaikat Jibril kepada Malaikat Malik si penjaga nerakan. Sesampainya Jibril di neraka, Malik bertanya kepadanya: "Apa yang engkau inginkan dari neraka, hai Jibril?" Malaikat Jibril berkata kepada Malik: "Saya menginginkan sebutir kurma dari api neraka." Malaikat Malik berkata kepadanya: "Andai aku memberikan kepadamu sebutir kurma dari api neraka, maka seluruh langit dan bumi akan hangus terbakar karenanya."

Jibril kembali berkata: "Kalau begitu, berilah aku separuhnya." Malaikat Malik menjawab: "Andaikata aku memberikan apa yang engkau minta itu, niscaya langit tidak akan menurunkan hujan walau setitikpun dan bumi tidak akan dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan karena panasnya." Kemudian Malaikat Jibril menghadap kepada Allah, seraya berkata: "Seberapa kecil saya harus mengambil api neraka?" Allah menjawab: "Ambillah sebutir atom (satuan terkecil dari suatu benda) dari api neraka."

Kemudian Jibril mengambil sebutir atom dari api neraka, lalu membasuh (mencelupkannya) sebanyak tujuh puluh kali ke dalam tujuh puluh lautan. Setelah itu, baru dibawa kepada Nabi Adam dan diletakkan di suatu gunung yang sangat besar. Seketika gunung itu menjadi hancur karenanya. Selanjutnya api neraka yang sebutir atom itu dikembalikan pada tempatnya kembali ddi neraka. Kendatipun api neraka itu telah dikembalikan di tempatnya semula di neraka, namun asap dan sisa-sisanya tetap melekat pada pohon-pohon, besi dan bebatuan, yang dapat berfungsi sebagai sumber pengapian sampai saat ini. Demikian gambaran tingkat panasnya api nereka.

Lautan api neraka itu terus bergolak menyambar-nyambar dengan dahsyat. Kobaran api itu tak pernah surut, apalagi padam. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah sebagai berikut:


Artinya: "Tiap-tiap kali nyala Jahannam itu akan padam. Kami tambahkan lagi bagi mereka nyalanya." (QS. Al-Isra': 97)



Kita akan mendapatkan gambaran yang sangat mengerikan, ketika kita perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Mursalat berikut ini:



Artinya: "Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka. Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah ia iringan onta yang kuning
(QS. Al-Mursalat: 30-33)



Ayat tersebut memberitahukan kepada kita tentang naungan yang tidak lain merupakan asap api Jahannam yang berada di atas neraka. Oleh sebab itu naungan di sini, bukanlah naungan yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh. Sebab ia merupakan asap api neraka yang mempunyai tiga gejolak, yaitu di kanan, di kiri, dan di atas. Ini berarti bahwa azab mengepung dari segala penjuru. Sebagaimana halnya, juga disebutkan dalam surat Al-Waqi'ah berikut ini:



Artinya: "Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak pula menyenangkan." (QS. Al-Qaqi'ah: 41-44)



Dari ayat-ayat tersebut kita mendapatkan gambaran siksaan neraka yang sangat mengerikan. Betapa tidak? api bergejolak menyala-nyala, air panas mendidih, naungan asap api neraka yang hitam pekat dan udara yang amat panas. Betapa pedihnya penyiksaan itu. Belum lagi darah, nanah, aliran keringat dan kotoran yang mendidih, menjadi menu utamanya. Hardikan malaikat yang kasar dan keras, dan murka Allah, melengkapi kepedihan siksaan bagi penduduk neraka. Na'udzubillahi min dzalik

D. Bahan Bakar Api Neraka
Al-Qur'an dengan tegas menjelaskan apa yang menjadi bahan bakar api neraka yang terus berkobar dan menyala dengan dahsyat itu. Seperti dijelaskan dalam ayat: "Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakann bagi orag-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 24)

Dan firman Allah SWT:



Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluragamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintah-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)



Yang dimaksud dengan bahan bakar ialah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalakan api atau mengobarkannya, demikian menurut pendapat Imam Jauhari. Menurut pendapat Abu Ubaidah: "Segala sesuatu yang engkau lemparkan di dalam api berarti engkau telah menjadikannya sebagai bahan bakar."

Menurut ahli tafsir, manusia yang dijadikan sebagai bahan bakar api neraka itu adalah orang-orang kafir dan musyrik. Adapun mengenai jenis batu yang dijadikan sebagai bahan bakar neraka itu, pada hakekatnnya hanya Allah yang tahu.

Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa batu-batu ini ialah jenis batu belerang. Abdullah bin Mas'ud berpendapat bahwa batu-batu itu adalah bartu belerang yang diciptakan Allah ketika menciptakan langit dan bumi, di langit dunia dan Dia menyediakannya bagi orang-orang kafir. Pendapat ini juga didukung Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ibnu Juraij.

Ibnu Rajab menyatakan bahwa kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan batu-batu itu adalah batu belerang untuk menyalakan api.

Pendapat ini didasarkan atas analisis orang-orang terdahulu bahwa batu belerang mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki jenis batu lainnya. Bara api dan kekuatan panasnya tak terungguli oleh jenis-jenis batu yang lainnya. Dalam hal ini dinyatakan bahwa batu belerang setidaknya ada lima unsur kekhasan, yang tepat dijadikan sebagi alat pembakaran dan penyiksaan, yaitu: Cepat menyala, berbau busuk, banyak berasap, sangat lengket pada badan dan panasnya sangat kuat.

Mengenai hakekat kebenaran jenis batu yang dijadikan sabagai bahan bakar neraka itu, kiranya hanyalah Allah yang mengetahuinya. Yang pasti Allah menjelaskan bahwa bahan bakar api neraka itu ialah "manusia dan batu." Sebab apa yang ada di akhirat itu, tidaklah sama persis dengan yang ada di dunia. Kesamaan itu hanyalah pada namanya saja.

Di samping keterangan ayat tersebut di atas, Allah SWT juga menjelaskan di dalam ayat lain bahwa bahan bakar neraka itu juga berupa orang-orang yang menyembah berhala dan berhala sembahannya itu. Allah SWT berfirman:



Artinya: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya." (QS. Al-Anbiya': 98-99)



E. Keganasan Binatang-binatang dan Pohon-pohon Neraka Yang Menyeramkan
Sebagai tempat untuk menyiksa para penantang Allah dan Rasul-Nya, neraka meurpakan tempat yang paling hina, paling buruk dan paling menyakitkan. Berbagai macam bentuk penyiksaan yang menyeramkan, menghinakan dan menghancur luluhkan, semua ada di dalamnya.

Api yang berkobar menyala-nyala, air panas, darah, nanah yang mendidih, naungan asap api neraka yang hitam pekat dan udara yang amat panas, merupakan gambaran yang pemandangan yang sangat mengerikan dan memilukan. Belum lagi binatang-binatang berbisa yang siap menggigit dan menggerogoti tubuh penghuni neraka. Pohon-pohon berduri yang dahan dan tangkainya menjulur ke segenap penjuru neraka menyerupai kepala setan. Di sebutkan dalam kitab Tanbihul Ghafilin, Abdullah bin Jabir meriwayatkan dari Rasulullah SAW , bahwa beliau bersabda:

"Sesungghnya di dalam neraka terdapat ular-ular seperti leher unta, dan di dalam neraka juga terdapat kalajengking seperti keledai..."



Imam Mujahid berkata, bahwa ular-ular di dalam neraka Jahannam itu leher-lehernya seperti unta, dan kalajengking seperti keledai. Sekali sengat, seluruh tubuh penghuni neraka mulai ujung rambut sampai ujung kaki, menjadi rontok dan sakitnya belum hilang selama empat puluh kali musim gugur.

Diterangkan dalam suatu riwayat bahwa di dalam neraka terdapat tujuh puluh ribu bukit, setiap bukit memiliki tujuh puluh ribu jurang. Pada setiap jurang terdapat tujuh puluh ribu titik nyala api yang bergejolak, setiap titik api terdapat tujuh puluh ribu kampung. Setiap kampung terdiri dari tujuh puluh ribu petak ruang, pada setiap petak terdapat tujuh puluh ribu rumah dari api. Pada tiap-tiap rumah terdapat tujuh puluh ribu ular dan kalajengking yang ganas lagi berbisa. Setiap kalajengking mempunyai tujuh puluh ribu ekor untuk menyengat dan menggigit.

Adapun mengenai pohon-pohon yang ada di dalam neraka, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur'an, ada yang bernama pohon zaqqum yang tumbuh keluar dari neraka Jahim yang menyala-nyala. Mayangnya seperti kepala setan dan buahnya menjadi makanan bagi penduduk neraka. Sebagaimana firman Allah SWT:



Artinya: "Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti onta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan." (QS. Al-Waqi'ah: 51-56)



Dan firman Allah SWT:



Artinya: "(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim, mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagia dri buah pohon itu. maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah memakan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dangan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim."
(QS. Ash-Shaffat: 62-68)



Di samping pohon zaqqum Al-Qur'an juga menjelaskan mengenai pohon yang ada di dalam neraka itu sebagai pohon yang berduri yang menjadi makanan bagi penghuni neraka , sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut ini:



Artinya: Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar." (QS. Al-Ghasyiyah: 6-7)



Menurut Imam Qatadah bahwa Ad-Dharii' adalah pohon berduri dan merupakan makanan yang paling hina dan paling busuk, yang diperuntukkan bagi penduduk neraka. Setelah memakanannya, perut dan otak mereka menjadi mendidih.

Sumber: Judul Buku; Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka
Penyusun: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Amelia Surabaya

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1)

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1)

1. Sekilas Gambaran Neraka yang Menyeramkan
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



A. Pengertian Neraka
Neraka dalam bahasa Arab disebut An-Naar, secara bahasa berarti "api". Lafal an-naar banyak disebut kan di dalam ayat-ayat Al-Qur'an yang berarti api neraka. Di antaranya ialah dalam ayat-ayat berikut ini:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-1_QS_Al-Hajj-19-22_-_IwLmb

Artinya: "Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian untuk mereka dari api neraka. Disiramkan air yang yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu hancur luluhlah segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): "Rasailah adzab yang membakar ini." (QS. Al-Hajj: 19-22)



Dan firman Allah SWT:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-2_QS_Al-Baqarah-81_-_IwLmb

Artinya: "(Bukan demikian), yang benar, barang siapa yang berbuat dosa dan ia telah diliputi dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 81)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-3_QS_Al-Fath-13_-_IwLmb

Artinya: "Dan barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang kafir neraka yang menyala-nyala."
(QS. Al-Fath: 13)

Dan firman Allah SWT:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-4_QS_Al-Baqarah-39_-_IwLmb

Artinya: "Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 39)



Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa neraka ialah suatu tempat penyiksaan yang penuh dengan kobaran api dan aneka macam siksaan yang sangat pedih, yang dipersiapkan Allah di akhirat. Suatu tempat yang disediakan untuk memenjarakan, menghukum, dan mengurung para musuh-musuh Allah dan Rasul-Rasul-Nya dan mereka yang selalu brgelimang dosa.

Neraka merupakan tempat untuk membalas dan menyiksa semua orang-orang kafir, orang-orang musyrik, orang-orang munafik, orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, mereka yang durhaka kepada-Nya, yang tidak mau mentaati perintah-perintah-Nya dan melanggar serta mengerjakan larangan-larangan-Nya. Orang-orang sombong yang senantiasa berbuat kekejam, kedzaliman, dan keangkaramurkaan, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan, yang selalu bergelimang dengan dosa dan noda tanpa pernah bertaubat dan memohon ampun atas segala kesalahan dan dosa-dosanya.

Aneka macam siksaan yang amat pedih dan dahsyat semuanya ada di dalam neraka. Bunga apinya berkobar menyala-nyala dengan derajat kepanasan yang tak terukur panasnya yang membakar dan mengelupas kepala dan kulit tubuh serta menghujam ke dalam hati, menghancurkan daging dan meremuk redamkan tulang belulang. Disebutkan dalam suatu hadits, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Andaikata seorang penduduk neraka Jahanam dikeluarkan daripadanya, kemudian dilihat oleh manusia penduduk dunia, niscaya matilah semua penduduk dunia ketika melihatnya, karena Murka Allah pada penduduk neraka itu."

Di dalam hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda:

"Api neraka itu dinyalakan seribu tahun hingga memerah, kemudian dinyalakan atasnya selama seribu tahun lagi hingga berwarna putih, kemudian seribu tahun lagi hingga menjadi hitam yang amat kelam. (HR. Tirmidzi)



BBermacam-macam binatang berbisa yang sangat ganas menggerogoti dan menyayat-nyayat tubuh penghuni neraka tanpa mengenal ampun. Air panas, darah, nanah yang mendidih menjadi minuman utamanya, hingga seluruh isi perutnya terbakar dan usus-ususnya terburai keluar, serta segala macam bentuk siksaan yang sangat pedih, semua ada di dalam neraka. Sehingga mereka merintih, menjerit, mengerang dan meraung-raung kesakitan. Namun demikian mereka tidak mati dan tidak pula merasakan bisa istirahat dari siksaan yang sangat menyayat itu, barang sedikitpun. Sungguh neraka merupakan tempat kembali yan paling buruk dan paling hina. Allah Ta'ala berfirman:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-5_QS_Ali_Imran_-_192_-_IwLmb

Artinya: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sesungguhnya telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun." (QS. Ali Imran: 192)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-6_QS_Az-Zumar-15_-_IwLmb

Artinya: "Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: "Sesunguhnya orag-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat." Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS. Az-Zumar: 15)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-7_QS_At-Taubah-63_-_IwLmb

Artinya: "Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahanamlah baginya, dia kekal di dalamnya, Itu adalah kehinaan yang besar." (QS. At-Taubah: 63)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-8_QS_Shaad-55-56_-_IwLmb

Artinya: "Beginilah (keadaan mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka bear-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, yaitu neraka Jahanam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat tinggal."
(QS. Shaad: 55-56)



Dan firman Allah SWT:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-9_QS_Al-Furqaan-66_-_IwLmb

Artinya: "Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." (QS. Al-Furqaan: 66)



Apakah neraka dan surga itu telah diciptakan Allah yang sekarang sudah ada ataukah baru akan diciptakan kelak pada hari kiamat tiba?

Menurut Ahlus Sunnah sepakat bahwa surga dan neraka adalah makhluk yang telah diciptakan dan sekarang sudah ada, demikian pendapat Ahlus Sunnah. Hal ini berbeda dengan pendapat kaum Mu'tazilah dan Qadariyah mengingkari hal itu. Menurut pendapat yang tekahir ini, Allah baru akan menciptakan keduanya pada hari kiamat.

Penciptaan surga dan neraka sebelum hari pembalasan adalah sia-sia, karena keduanya belum berfungsi dan menganggur dalam masa yang sangat lama, demikian menurut persepsi Mu'tazilah dan Qadariyah: mereka menolak nash-nash yang bertentangan dengan syariat batil yang mereka tetapkan itu.

Mengenai sudah adanya surga dan neraka itu sebagaimana keterangan ayat-ayat Al-Qur'an, di antarnya ialah:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-10_QS_An-Najm-13-15_-_IwLmb

Artinya: "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal." (QS. An-Najm: 13-15)



Dan firman Allah SWT:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-11_QS_An-Naba'-21-26_-_IwLmb

Artinya: "Sesungguhnya Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal."
(QS. An-Naba': 21-26)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-12_QS_Al-Baqarah-24_-_IwLmb

Artinya: "Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disedikan bagi orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 24)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-13_QS_Ali_Imran-131_-_IwLmb

Artinya: "Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disedikan untuk orang-orang kafir." (QS. Ali Imran: 131)



Dari ayat-ayat tersebut kiranya menjadi jelas bahwa neraka itu benar-benar telah ada yang dipersiapkan Allah untuk menyiksa musuh-musuh-Nya, yang membangkang terhadap perintah-perintah-Nya dan tidak mau berjalan di atas syari'at yang telah ditetapkan-Nya melalui para Rasul yang telah diutus Allah SWT.

Di samping ayat-ayat tersebut, yang menjelaskan tentang adanya neraka, juga dapat diketahui dari hadits-hadits Nabi SAW berikut ini:

Diriwatkan dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya, andai kalian melihat apa yang aku lihat, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis." Para sahabat bertanya: "Apa yang engkau lihat, ya Rasulullah?" Nabi SAW menjawab: "Aku melihat surga dan neraka."
(HR. Muslim)



Rasulullah SAW juga bersabda:

"Kulihat di tempatku ini, segala sesuatu yang dijanjikan kepadamu, hingga kulihat aku mengambil buah-buahan dari surga ketika kalian melihatku maju. Dan telah kulihat sebagian api neraka menghancurkan sebagian yang lain ketika kalian melihatku mundur."

Diriwayatkan di dalam hadits Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya ketika seorang dari kamu meninggal dunia ditunjukkan kepadanya tempat tinggalnya di waktu pagi dan sore. Jika ia termasuk penghuni surga, maka ia akan melihat surga. Jika ia termasuk penghuni neraka, maka ia akan masuk nereka. Dikatakan inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu pada hari kiamat."



Dalam kitab hadits Shahihaini (Bukhari dan Muslim) diriwiyatkan hadits Isra' Mi'raj dari Anas RA, bahwa Rasulullah SAW Bersabda:

".....kemudian Jibril membawaku hingga tiba di Sidratul Muntaha yang diliputi warna-warni. Aku tidak tahu warna apa itu." Selanjutnya Nabi SAW bersabda: "Kemudian aku masuk surga. Ternyata surga banyak mutiara dan tanahnya dari misik."



Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Ketika Allah menciptakan surga dan neraka. Dia mengutus Jibril ke surga. Allah berfirman: "Pergilah, lalu lihatlah ia serta apa yang Aku sediakan bagi penghuninya di dalam surga." Maka Jibril pergi ke sana dan melihat surga serta apa yang disediakan Allah bagi penghuninya di dalamnya. Kemudian Jibril kembali dan berkata: "Demi keperkasaan-Mu, tidaklah seorang pun yang mendengar tentang surga, melainkan ia akan memasukinya." Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Jibril untuk menaruh hal-hal yang tidak menyenangkan di sekeliling surga. Lalu Allah berfirman: "Kembalilah dan lihatlah ia serta apa yang Aku sediakan bagi penghuninya di dalam surga." Maka Jibril pergi melihatnya, kemudian kembali dan berkata: "Demi keperkasaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorangpun yang dapat memasukinya." Nabi SAW bersabda: "Kemudian Allah mengutus Jibril ke neraka, Allah berfirman: "Pergilah dan lihatlah neraka serta apa yang Aku sediakan bagi penghuninya di dalam neraka." Maka Jibril melihatnya, ternyata sebagian api neraka menaiki sebagian lainnya. Lalu Jibril kembali dan berkata: "Demi keperkasaan-Mu, tidak ada seorangpun yang akan memasuki neraka bila ia mendengar tentangnya. Kemudian Allah memerintahkan Jibril menaruh berbagai kesenangan di sekeliling neraka. Selanjutnya Allah berfirman: "Pergilah, lalu lihatlah apa yang Aku sediakan buat penghuninya di dalam neraka. Maka Jibril pergi melihatnya, lalu kembali dan berkata: "Demi keperkasaan-Mu, aku benar-benar takut, tak seorangpun selamat darinya, melainkan ia akan memasukinya." (HR. Muslim)



Rasulullah SAW juga bersabda:

"Dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Neraka ditutup (dikelilingi) dengan berbagai kesenangan dan hawa nafsu. Sedangkan surga ditutup (dikelilingi) dengan hal-hal yang tidak disukai (hawa nafsu)" (HR. Muttafaq 'alaih)



B. Luas Neraka dan Kedalamannya
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa neraka benar-benar telah diciptakan oleh Allah dan sudah ada. Hanya saja tidak ada nash yang menjelaskan secara pasti mengenai tempatnya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai tempat neraka sekarang. Sebaian di antara mereka ada yang berpendapat bahwa neraka itu berada di bumi yang paling bawah. Ada yang menyatakan bahwa neraka itu terletak di langit. Dan ada pula yang menyatakan bahwa neraka itu terletak di sebelah kiri Arasy Allah SWT.

Sementar ada sebagian lain yang tidak mengemukakan pendapat mengenai neraka secara pasti. Karena tidak ada nash atau dalil yang shahih yang menjelaskan tentang ketentuan letak tempatnya secara pasti. Seperti pendapat Syekh Waliyullah Ad-Dahluwi, sebagaimana yang diungkapkan dalam perkataannya berikut ini: "Tidak ada suatu nash pun yang menegaskan penentuan tempat surga dan neraka, melainkan hanya Allah sendiri yang tahu sesuai dengan kehendak-Nya. Karena kita tidak bisa mengetahui seluruh makhluk-makhluk Allah, demikian pula mengenai alam-alamnya." Pendapat ini, merupakan pendapat yang terkuat, demikian menurut pandangan Shiddiq Hasan Khan.

Dalam hal ini Imam As-Syuyuthi juga berkata: "Kamu tidak mempunyai pendapat tentang tempat neraka, karena tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Tidak ada hadits shahih yang dapat diandalkan dan dijadikan sebagai pegangan, mengenai di mana tempat neraka yang sebenarnya.

Demikian pula mengenai luas dan dalamnya neraka, tidak disebutkan secara pasti di dalam nash Al-Qur'an maupun hadits Nabi SAW. Yang pasti neraka itu ada, sebagai tempat memenjarakan, membalas, dan menyiksa manusia dan jin yang menentang dan menjadi musuh-musuh Allah dan Rasul-Rasul-Nya. Yang pasti neraka itu dapat menampung dan memuat berapa pun banyaknya para penghuni yang akan mendekam di dalamnya. Allah berfirman kepada neraka:

"Sesungguhnya engkau adalah siksa-Ku yang Aku pergunakan untuk menyiksa siapa saja yang Aku kehendaki."



Allah SWT berfirman:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-14_QS_Qaaf-30_-_IwLmb

Artinya: "(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahanam: "Apakah kamu sudah penuh?" Dia menjawab: "Masih adakah tambahan?" (QS. Qaaf: 30)



Neraka itu amat luas dan dalam, sehingga meskipun ia terus menerus diisi dan dimasuki penghuninya yang sangat banyak , tetaip ia dapat menampung dan memuat seluruhnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Anas RA, bahwa Nabi SAW bersabda:

"Neraka Jahanam itu terus menerus diisi dan berkata: "Apakah masih ada tambaha?" Akhirnya Tuhan Yang Maha Mulia meletakkan kaki-Nya di dalamnya, lalu sebagian yang satu mendekat kepada lainnya. Jahanam berkata: "Cukup, cukup, demi Keperkasaan dan Kemurahan-Mu." (Muttafaq 'Alaihi)



Untuk mendapatkan gambaran mengenai betapa dalamnya neraka, perhatikan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA berikut ini:

"Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba terdengar suara benda yang jatuh. Lalu Nabi SAW bertanya: "Tahukah kalian suara apa itu?" Kami menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Nabi SAW bersabda: "Ini adalah suara jatuhnya batu yang dilemparkan ke dalam neraka selama 70 tahun silam, dan sekarang ia baru jatuh
di dalam neraka."
(HR. Muslim)



Hadits yang senada juga diriwayatkan dari Mu'aazd dan Abu Umamah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Andaikata sebuah batu sebesar tujuh ekor onta dilemparkan dari tepi neraka Jahanamm, maka iajatuh di dalamnya selama 70 tahun, belum mencapai dasarnya.



Diriwayatkan pula bahwa matahari dan bulan yang merupakan dua makhluk besar, bagaikan dua ekor sapi digulung di dalam neraka. Imam Thahawi dan Salamah bin Abdurrahman meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Matahari dan bulan menjadi dua ekor sapi yang tergulung di dalam neraka pada hari kiamat.



Ada yang menggambarkan bahwa neraka itu menyerupai mesin penggiling yang mampu menggiling ribuan ton biji-bijian seluruhnya tanpa merasa payah maupun jemu. Ketika biji-bijian itu habis, mesin penggiling itu masih terus berputar menunggu tambahan.

C. Kedahsyatan Bunga Api dan Asap Neraka yang Sangat Panas
Sebagai tempat penyiksaan neraka merupakan lautan api yang menyala-nyala, bergejolak dan berkobar-kobar dengan derajat kepanasan yang amat dahsyat. Untuk mendapatkan gambaran mengenai gejolak nyala api neraka dan kedahsyatan panasnya, perhatikan ayat-ayat berikut ini:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-15_QS_Al-Lail-14_-_IwLmb

Artinya: "Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala."
(QS. Al-Lail: 14)



Dan firman Allah SWT:

Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-16_QS_Al-Ahzab-64-65_-_IwLmb

Artinya: "Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong." (QS. Al-Ahzab: 64-65)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-17_QS_Al-Fath-13_-_IwLmb

Artinya: "Dan barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang kafir neraka yang menyala-nyala."
(QS. Al-Fath: 13)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-18_QS_Al-Ma'arij-15_-_IwLmb

Artinya: "Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak."
(QS. Al-Ma'arij: 15)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-19_QS_Al-Haqqah-30-31_-_IwLmb

Artinya: "(Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya." Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala."
(QS. Al-Haqqah: 30-31)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) 1-20_QS_Al-Qaari'ah-8-11_-_IwLmb

Artinya: "Dan adapun oraang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (QS. Al-Qari'ah: 8-11)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) QS_Faathir-6_-_IwLmb

Artinya: "Sesungguhnya syaitan itu musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Fathir: 6)



Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka (Bag. 1) QS_Al-Humazah-5-7_-_IwLmb

Artinya: "Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati." (QS. Al-Humazah: 5-7)



Di samping ayat-ayat tersebut banyak hadits-hadits Nabi SAW yang menjelaskan tentang panas dan nyala api neraka, di antaranya ialah, Abu Hurairah meriwayatkan, Bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Api yang kalian nyalakan di dunia ini, adalah hanya satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka Jahanam. Para sahabat bertanya: "Demi Allah, yang ini saja (nyala api di dunia) sudah cukup (untuk menghanguskan) ya Rasulullah?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya panasnya itu masih lebih enam puluh sembilan lagi, masing-masing dari semua bagian (dari enam puluh sembilan itu) memiliki tingkat kepanasan yang sama (seperti panasnya api di dunia yang hanya sati bagian itu." (HR. Bukhari dan Muslim)



Dalam kaitannya dengan api neraka ini Rasulullah SAW juga bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Tirmidzi berikut ini:

"Api neraka itu dinyalakan seribu tahun hingga memerah, kemudian dinyalakan lagi selama seribu tahun hingga berwarna putih, kemudian seribu tahun lagi hingga menjadi berwarna hitam pekat." (HR. Tirmidzi)



Sumber: Judul Buku; Kedahsyatan Siksaan dan Rintihan Para Penghuni Neraka
Penyusun: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Amelia Surabaya

Rabu, 06 Februari 2013

Memelihara Hati Agar Tetap Sujud Kepada Illahi



Oleh: Raslaini Asmiyati S.Ag

Pada salah satu sabda Rasulullah SAW menyatakan bahwa: "Dalam tubuh kita ada segumpal daging, jika ia baik, maka akan baik pulalah seluruh gerak lahiriyahnya. Sebaliknya jika ia buruk, maka akan buruklah seluruh gerak lahiriyahnya. Hati yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ini sudah tentu bukan hati jasmani tapi hati rohani yang halus yang lathifa yang bersifat Rabbaniyah.

Kata Imam Ghazali dalam bukunya Rahasia Keajaiban Hati bahwa "Hati yang halus itulah hakikat manusia yng dapat menangkap segala rasa, mengetahui dan mengenal segala sesuatu." Hati yang kita bicarakan ini tidak statis tapi dinamis dalam arti senantiasa berbolak-balik. Dalam hal ini Allah SwT berisyarat dengan firman-Nya:

Yang artinya: "Dan Kami bolak-balikkan hati mereka dan penglihatannya (QS. Al-An'am: 110)



Karena sifatnya berbolak-balik inilah maka Rasulullah SAW bersabda:

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU



Mendengar doa ini para sahabt bertanya: "Apakah engkau khawatir ya Rasulullah?" Lalu beliau bersabda:

Yang artinya: "Dan apakah yang bisa membuat aman padaku, sedangkan hati itu di antara dua jari-jari dari jari-jari Tuhan yang Maha Pemurah. Ia membolak-balikkan hati sekehendak-Nya.



Demikian keadaan hati. Sekarang, jika suatu saat kita mengalami krisis hati atau hati cenderung untuk berpaling pada Ilahi, tidak pedduli dengan perintah dan larangan-Nya, apa yang harus kita usahakan agar hati rohaniyah itu dapat cepat keluar dari kemelut tersebut

Tulisan berikut ini akan mencoba menyajikan beberapa terapi praktis dalam rangka memelihara hati agar tetap sujud pada Illahi

1. Membaca dan Meresapi Ayat-Ayat Al-Qur'an
Membaca dan meresapi ayat-ayat Al-Qur'an merupakan salah satu jalan untuk menghidupkan hati nurani, penghayatan dengan derai air mata. Sebagaimana firman Allah SWT:

yang artinya: "Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta." (QS. Al-Furqaan: 37)



Firman Allah SWT dalam ayat lain:

yang artinya: Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah, maka merek bersimpuh dengan bersujud dan berurai air mata." (QS. Maryam: 58)



Dalam ayat lain Allah mensinyalir ciri-ciri orang beriman yang di antaranya adalah:

artinya: "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya." (QS. Al-Anfal: 2)



Sudah selayaknya kita berusaha meresapi nash-nash Al-Qur'an yang kita baca dan merasakan betapa Agung Kekuasaan-Nya. Selanjutnya menyelaraskan sikap perilaku sehari-hari kita dalam napas Islamiyah yang disinari oleh ayat-ayat Al-Qur'an.

2. Menghadiri Ta'dziyah
Ta'dziyah adalah melayat ke rumah duka (tetangga atau kerabat lainnya yang mendapat musibah kemaatian) guna menghibur keluarga yang ditinggalkan dengan ucapan-ucapan nasihat. Hukumnya sunnah dan pelaksanaannya tidak lebih dari tiga hari. Ta'dziyah ini penting, bukan saja bagi keluarga duka tapi juga bagi pelayat. Karena ta'dziyah akan mengingatkan kita kepada Al-Maut.

Maut adalah sesuatu yang pasti. Siapapun dimanapun ia berada jika saatnya sudah tiba, tidak bisa ditunda, tidak bisa dimundurkan walaupun sedetik saja. Dan saat tiba ajal itu adalah rahasia Allah. Kita tidak tahu, hari inikah saatnya, besokkah saatnya, atau.... yang jelas kita sedang dalam antrian panjang menanti mati. Bagaimana jika setelah ini kita mati? Siapkah kita menghadapi kehidupan setelah mati?

Pertanyaan-pertanyaan ini sering membuat kita terhenyak diam seribu bahasa. Menghisab diri bagaimana jika hal ini sungguh-sungguh terjadi pada diri kita. Perasaan bahwa diri ini kecil, lemah tak berdaya yang muncul tatkala dihadapkan pada periistiwa mati (kematian), menurut 'Alim 'Ulama, merupakan salah satu terapi yang efektif untuk menghidupkan hati. Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan agar kita gemar mengingat mati.

"Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan segala kelezatan." (HR. At-Tirmidzi)



Dalam hadits lain Beliau bersabda, yang artinya:

"Ziarah kuburlah kalian, karena itu mengingatkan kalian tentang akhirat."
(HR. Ibnu Majjah)



Dalam moment yang lain pula Rasulullah SAW menyatakan:

"Aku tinggalkan untuk kalian dua nasihat, satu nasihat diam dan satuny nasihat yang pandai bicara. Nasihat diam adalah jenazah dan nasihat yang pandai bicara bicara adalah Al-Qur'an



Oleh karena itu bagi orang yang bermata hati, menghadiri suatu ta'dziyah bukan sekedar untuk memindahkan tempat ngobrol, atau bersanda gurau, sementara ahlil bait sedang dalam tertimpa musibah. Bagi mereka yang bermata hati, menghadiri ta'dziyah sama dengan menghadiri suatu momen yang sangat berharga, karena di sana ada nasehat yang sungguh sangat besar nilai gunanya. Karena melihat jenazah akan melembutkan hati, menumbuhkan perasaan insaf dan menghisab diri bahwa kita pun suatu saat akan mengalami hal yang serupa.

Rasanya tidak dapat disangkal bahwa setiaap mendengar berita duka tentang meninggalnya seseorang sahabat, atau meninggalnya sanak saudara atau siapa saja, sketika itu kita terhenyak dan mulai mengoreksi diri kembali. Sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup jika suatu saat giliran kita menghadap Allah SWT. Jika peristiwa kematian tidak cukup untuk menyadarkan diri, mugnkin, kita sudah tidak lagi berhati.

3 memikirkan Karunia Allah
Menurut Syaikhul Islam Ibmu Taimiyah dalam Kitab Majmu' Fatawa dan menghidupkan hati adalah memikirkan (mengenang) karunia dan nikmat Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

yang artinya "Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."
(QS. Al-A'raf: 69)

Artinya

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka itusemua dari Allah." (QS. An-Nahl: 53)

Kemudian firman Allah:

Artinya: "Dan jika kamu ingin mencoba menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan bisa menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)

Sedemikan banyak nikmat Allah untuk kita sampai-sampai untuk menghitungnya saja kita tidak bisa. Karena itu, jika seseorang merenungkan dan memikirkan segala karunia dan nikmat Allah yang diberikan kepadanya lahir dan bathin, Insya Allah hatinya akan tersentuh dan tergugah untuk senantiasa bersyukur dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Semua sudah diberikan-Nya kepada kita. Bentuk rupa Dia indahkan. Akal dan pikiran hanya dibrikan-Nya kepada manusia. Seisi langit ini Allah sediakan untuk kita. Masih adakah alasan untuk tidak mau beribadah kepada-Nya. Masih adakah alasan untuk tidak bersedia tunduk kepada-Nya.

Renungilah segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, jika kita ingin hati ini tetapi sujud pada Illahi. Sungguh suatu bencana bila kita diberi kehidupan oleh Allah, tetapi kita sendiri enggan memperhatikan hak-hak-Nya. Padahal semetinya dengan karunia yang berlimpah itu kita kita semakin giat dan tekun untuk beribadah kepada-Nya. Demikian beberapa upaya yang dapat dilakukan agar hati tetap sujud pada Illahi. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan taufiq da hidayah pada kita sehingga bagaimanapun kondisi dunia namu kita tetap istiqamah dalam taat kepada Allah.

Semoga Bermanfaat

Selasa, 05 Februari 2013

Mengenali Racun Hati



Oleh: Syofwatillah

Ketahuilah bahwa semua maksiat dalam bentuk apapun adalahmerupakan racun bagi hati, penyebab sakitnya hati bahkan juga penyebab matinya hati.

Berkata Abdullah Mubarak: "Meninggalkan dosa dan maksiat dapat menjadikan hidupnya hati, dan sebaik-baik jiwa adalah yang mampu meniadakan perbuatan dosa dalam dirinya. Maka barang siapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat hendaklah membersihkan diri dari racun-racun, kemudian dengan menjaga tatkala ada ada racun hati yang berusaha menghampirinya, dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar.

Racun-racun hati itu banyak macamnya, di antaranya adalah berlebih-lebihan (banyak) bicara atau fudhulul kalam. Dikatakan bahwa belumlah bisa istiqamah iman seseorang sebelum istiqamah lisannya.Maka lurus dan istiqamahnya hati dalam keimanan itu dimulai dari lisan yang istiqamah. Oleh karena itulah Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak banyak bicara tanpa disertai dzikir kepada Allah karena akan mengakibatkan kerasnya hati.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW pernah bicara kepada sahabat Mu'adz: "Apakah engkau mau aku tunjukkan yang menjadi landasan itu semua (ibadah-ibadah)?" "Baik, ya Rasulullah," jawab Mu'adz. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Cegahlah ini," sambil mengisyaratkan dengan jari pada mulutnya), lalu Mu'adz berkata: "Ya Rasulullah, apakah kita akan dmintai tanggung jawab dari apa yang kita ucapkan?" Kemudikan Rasulullah SAW bersabda: "Sebrono kamu wahai Mu'adz, tidaklah seseorang akan ditelunkupkan wajahnya dan punggungnya ke dalam neraka melainkan hasil dari lisannya." (Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi)

"Ada dua lubang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, yaitu mulut dan kemaluan." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan di-shahihkanya)

Kemudian dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya ada seorang lelaki mengucapkan sepatah kata yanng dianggap tidak apa-apa tetapi ternyata bisa menjerumuskannya ke neraka sampai tujuh puluh tahun." (Hr. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah). Dan tatkala Uqban bin Amir bertanya kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, apakah sesuatu yang dapat menyelamatkan?" Lalu Rasulullah SAW menjawab:"Tahanlah olehmu lisanmu."

Lalu dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada dijenggot dan kumisnya (lisan) dan kedua pahanya (kemaluan), maka aku jamin untuknya surga." (HR. Bukhari)

Maksud dalam hadits di atas, barang siapa yang bisa memelihara apa yang ada di antar kedua bibirnya, yaitu mulut dari semua perkataan yang tidak bermanfaat, dan bisa menjaga apa yang ada di antara kedua pahanya yaitu farji agar tidak diletakkan di tempat yang tidak dihalalkan Allah. maka jaminannya surga.

Kemudian dalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhirat, hendaklah berbicara yang baik atau agar diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam suatu riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah SWA bersabda: "Sabagian dari tanda bagusnya Islam seseorang apabila ia bisa meninggalkan ucapan yang tidak berguna bagiya."

Berkata Sahl: "Barang siapa yang masih suka bicara yang tidak berguna maka ia tidak layak dikatakan shiddiq."

Apalagi bila ucapan seseorang sampai menyakiti orang lain maka belum bisa dijadikan jaminan iman yang dimilikinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Demi Allah, tidaklah beriman, demi Allah, tidaklah beriman." Kemudian ditanyakan: "Siapakah gerangan yang engkau maksudkan wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman lantaran kejahatannya."

Dengan demikian maka hendaklah seorang mukmin mencukupkan diri dari ucapan yang tidak berguna seperti; berdusta, suka mengadu domba, ucapan yang keji, ghibah, namimah, suka mencela, menyakiti orang lain, dan sebagainya.

Itu semua merupakan racun-racun yang sehingga apabila seseorang banyak melakukan hal seperti ini, maka hatinya akan teracuni dan bila hati sudah teracuni maka lambat laun, cepat atau lambat akan mengakibatkan sakitnya hati. Semakin banyak racunya akan semakin parah penyakit dalam hati, dan kalau tidak tertolong akan mengakibatkan matinya hati.

Macam Macam Hati
Hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang dilakukan kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah SWT: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan danhati semuanya itu akan dimintai pertanggangg jawabannya." (QS. Al-Isra': 36)

Dalam tubuh manusia kedudukan hati dengan anggota yang lainya ibarat seorang raja dengan seluruh bala tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaannya dan perintahnya,dan bekerja sesuai dengan apa yang dekehendaki.

"Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semua. Dan apabila segumal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati yang Sehat
Yaitu hati yang terbebas dari berbagai penyakit hati. Firman Allah SWT: "(Yaitu) dihari yang harta dan anak tidak akan bermanfaat kecuali siapa yang mengharap Allah dengan membawa hati yang selamat." (QS. Asy-Syura: 88-89)

Hati yang Mati

Yaitu kebalikan dari hati yang sehat, hati yang tidak mengenal Rabbnya. Tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. Bahkan selalu memperturutkan hawa nafsunya walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenci-Nya.

Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu dirdhai-Nya atau dimurkai-Nya, dan ia menghambakan dalam segala bentuk kepada selain Allah. Apabila ia mencintai, maka cintanya itu hanya karena nafsu. Apabila ia membenci, maka bencinya itu hanya karena nafsu. Dan lain sebagainya.

Hati yang Sakit
Yaitu hati yang hidup tapi ada penyakitnya, hati orang yang taat kepada terhadap Allah, tetapi kadang kala juga berbuat maksiat, dan kadang-kadang salah satu di antara keduanya saling berusaha untuk mengalahkannya.

Hatijenis ini, mencintai Allah, iman kepada-Nya, beribadah kepada-Nya dengan ikhlas dan tawakkal kepada-Nya, itu semua selalu dilakukanya. Tetapi itu juga mencintai nafsu syahwat dan kadang-kadang berperan dalam hatinya serta berusaha untuk mendapatkannya.

Senin, 28 Januari 2013

Cara Meraih Hidayah Allah SWT

Oleh : Suprianto

Untuk meraih hidayah Allah, setiap Muslim harus memiliki naluri spiritual, menggunakan akal dan pancaindera, yang sesuai dengan ajaran Islam. Tiga hal tersebut akan lebih lengkap jika kita kembali pada Al-Qur'an, hadits Nabi SAW, dan memakmurkan masjid.

Salah satu cara meraih hidayah Allah SWT adalah dengan memakmurkan masjid. Bukan sekadar menghadiri shalat, tetapi bagaimana menangkap cahaya hidayah yang terpancar dari masjid.

"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS At-Taubah: 18)



Masjid adalah pancaran nur Ilahi. Allah adalah sumber dan pemberi cahaya. Suatu bahan yang terlihat mengilap atau kusam bergantung pada sifat dan posisi bahan itu apakah dia memantulkan, menyerap cahaya atau tidak. Cahaya dapat berbelok, dapat memantul.

Hidayah juga demikian. Cahaya hanya menembus benda yang transparan melalui kaca. Cahaya tidak dapat menembus tembok, demikian juga cahaya spiritual. Jika hati tertutup, cahaya atau hidayah Allah tidak akan masuk. Ini salah satu sebab mengapa orang ingkar dinamakan kafir. Sebab, hati mereka telah tertutup. Karena itu, bukalah pintu hati dan pikiran untuk meraih hidayah Allah.

"Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat-(nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS An-Nuur: 35)



Kalau kita ingin pengetahuan, ingin hidayah, maka gunakan naluri kita, gunakan pancaindera dan akal kita. Akal saja tidak cukup, dia memerlukan minyak untuk menyalakan api itu. Kalau minyaknya kotor, akan lahir asap yang memburamkan cahaya. Dan minyak yang bersih akan melahirkan cahaya yang bersih pula.

Peliharalah cahaya itu agar senantiasa bersinar dan menerangi hati kita. Gunakanlah hati, pikiran, dan seluruh pancaindera, agar api dan cahaya itu tidak padam. Dan dari masjid kiranya hal tersebut bisa kita dapatkan. Sebab, orang yang memakmurkan masjid, berarti telah memancarkan cahaya Ilahi. Dan siapa yang berada di jalan cahaya Ilahi, niscaya dia akan selalu diterangi. Mudah-mudahan kita selalu mendapatkan limpahan hidayah Allah karena aktivitas kita selalu terpaut ke masjid.

Sumber: www.republika.co.id

Meraih Hidayah Allah



Pernah ada seseorang yang matanya ditutup, disuruh berjalan akhirnya menangis. Mengapa? Karena setiap langkahnya penuh dengan keraguan, ia merasa setiap langkahnya selalu beresiko, mungkin terpeleset atau tubuhnya membentur dinding.

Begitulah kira-kira, kalau kita tidak mendapatkan cahaya dalam hidup ini, lalu bagaimana kalau hati kita tidak mendapatkan cahaya kebenaran?

Orang yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah, hidup ini terasa lelah, takut, tegang, was-was, cemas, gelisah dan bingung. Orang yang jauh dari agama, dari Alquran apapun yang diberikan Allah kepadanya pasti hanya akan membuat dirinya hina.

Harta, gelar, pangkat, jabatan atau penampilan yang diberikan Allah, kalau tidak diiringi dengan ketaatan kepada Allah pasti akan menyiksa. Hidupnya hiruk-pikuk, rebutan, sikut sana sini, tidak peduli aturan dan etika.

Tetapi kalau kita mendapat hidayah dari Allah, seperti berjalan diterang benderang. Mantap, tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pernah bersedih hati, dia tidak panik dengan dunia ini. Tapi dia aakan merasa galau kalau tidak mampu meyempurnakan apa yang bisa ia lakukan.

Memang, disamping tetap istiqamah dalam meraih hidayah Allah, kitapun harus tetap memanjatkan doa karena langkah awal untuk meraih hidayah ini adalah dengan terus mencari ilmu sekuat tenaga. Karena makin banyak ilmu, maka makin produktif dalam beramal dan makin bening hati kita. Semoga Allah menjaga kita dari dicabutnya nikmat yang mahal, yaitu hidayah.

Sumber: Kolom.abatasa.com

Sabtu, 26 Januari 2013

Sekilas Sejarah Nabi Muhammad SAW

Genealogi
Silsilah Nabi Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan. Adnan merupakan keturunan laki-laki ke tujuh dari Ismail bin Ibrahim, yaitu keturunan Sam bin Nuh. Muhammad lahir di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun 571 Masehi (lebih dikenal sebagai Tahun Gajah).

Lebih lengkap silsilahnya dari Muhammad hingga Adam adalah, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarih (Azar) bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamikh bin Mutusyalikh bin Akhnukh bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam.

Nasab ini disebutkan oleh Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani di salah satu riwayatnya. Nasab Rasulullah sampai Adnan disepakati oleh para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat. Yang dimaksud Quraisy adalah putra Fihr bin Malik atau an-Nadhr bin Kinanah.

Kelahiran
Para penulis sirah (biografi) Muhammad pada umumnya sepakat bahwa ia lahir pada Tahun Gajah, yaitu tahun 570 M, yang merupakan tahun gagalnya Abrahah menyerang Mekkah. Muhammad lahir di kota Mekkah, di bagian Selatan Jazirah Arab, suatu tempat yang ketika itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Ayahnya, Abdullah[11], meninggal dalam perjalanan dagang di Madinah, yang ketika itu bernama Yastrib, ketika Muhammad masih dalam kandungan. Ia meninggalkan harta lima ekor unta, sekawanan biri-biri dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kemudian mengasuh Nabi.

Pada saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya ke Yatsrib (sekarang Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa' yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan di sana. Setelah ibunya meninggal, Muhammad dijaga oleh kakeknya, 'Abd al-Muththalib. Setelah kakeknya meninggal, ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika inilah ia diminta menggembala kambing-kambingnya di sekitar Mekkah dan kerap menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam (Suriah, Lebanon, dan Palestina).

Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Muhammad lahir di bulan Rabiulawal, kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya. Di kalangan Syi'ah, sesuai dengan arahan para Imam yang merupakan keturunan langsung Muhammad, meyakini bahwa ia lahir pada hari Jumat, 17 Rabiulawal; sedangkan kalangan Sunni percaya bahwa ia lahir pada hari Senin, 12 Rabiulawal (2 Agustus 570 M).

Berkenalan dengan Khadijah
Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Muhammad sering menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan kabar tentang kejujuran dan sifatnya yang dapat dipercaya menyebar luas dengan cepat, membuatnya banyak dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah.

Salah seseorang yang mendengar tentang kabar adanya anak muda yang bersifat jujur dan dapat dipercaya dalam berdagang dengan adalah seorang janda yang bernama Khadijah. Ia adalah seseorang yang memiliki status tinggi di kalangan suku Arab. Sebagai seorang pedagang, ia juga sering mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuat Khadijah memercayakannya untuk mengatur barang dagangan Khadijah, Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua kali lipat dan Khadijah sangat terkesan ketika sekembalinya Muhammad membawakan hasil berdagang yang lebih dari biasanya.

Seiring waktu akhirnya Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah, mereka menikah pada saat Muhammad berusia 25 tahun. Saat itu Khadijah telah berusia mendekati umur 40 tahun, namun ia masih memiliki kecantikan yang dapat menawan Muhammad. Perbedaan umur yang jauh dan status janda yang dimiliki oleh Khadijah tidak menjadi halangan bagi mereka, walaupun pada saat itu suku Quraisy memiliki budaya yang lebih menekankan kepada perkawinan dengan seorang gadis ketimbang janda. Meskipun kekayaan mereka semakin bertambah, Muhammad tetap hidup sebagai orang yang sederhana, ia lebih memilih untuk menggunakan hartanya untuk hal-hal yang lebih penting.

Memperoleh Gelar
Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia ikut bersama kaum Quraisy dalam perbaikan Ka'bah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku Quraisy berdebat tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Muhammad dapat menyelesaikan masalah tersebut dan memberikan penyelesaian adil. Saat itu ia dikenal di kalangan suku-suku Arab karena sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya "orang yang dapat dipercaya".

Diriwayatkan pula bahwa Muhammad adalah orang yang percaya sepenuhnya dengan keesaan Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat tamak, angkuh dan sombong yang lazim di kalangan bangsa Arab saat itu. Ia dikenal menyayangi orang-orang miskin, janda-janda tak mampu dan anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang sudah membudaya di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang berarti "yang benar".

Kerasulan
Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang senang dengan kekerasan dan pertempuran dan menjelang usianya yang ke-40, ia sering menyendiri ke Gua Hira' sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur (merenung) dan mencari ketenangan dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut yang senang bergerombol. Dari sini, ia sering berpikir dengan mendalam, dan memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.

Muhammad pertama kali diangkat menjadi rasul pada malam hari tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611 M, diriwayatkan Malaikat Jibril datang dan membacakan surah pertama dari Al-Qur'an yang disampaikan kepada Muhammad, yaitu surah Al-Alaq. Muhammad diperintahkan untuk membaca ayat yang telah disampaikan kepadanya, namun ia mengelak dengan berkata ia tak bisa membaca. Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Jibril berkata:

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al-Alaq 96: 1-5)”

Muhammad berusia 40 tahun 6 bulan dan 8 hari ketika ayat pertama sekaligus pengangkatannya sebagai rasul disampaikan kepadanya menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah atau tahun masehi (penanggalan berdasarkan matahari). Setelah kejadian di Gua Hira tersebut, Muhammad kembali ke rumahnya, diriwayatkan ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin secara bergantian akibat peristiwa yang baru saja dialaminya dan meminta istrinya agar memberinya selimut.

Diriwayatkan pula untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad mendatangi saudara sepupunya yang juga seorang Nasrani yaitu Waraqah bin Naufal. Waraqah banyak mengetahui nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang dialami Muhammad, Waraqah pun berkata, bahwa ia telah dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian Waraqah menyebutkan bahwa An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadanya, kaumnya akan mengatakan bahwa ia seorang penipu, mereka akan memusuhi dan melawannya.

Muhammad menerima ayat-ayat Al-Qur'an secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun. Ayat-ayat tersebut diturunkan berdasarkan kejadian faktual yang sedang terjadi, sehingga hampir setiap ayat Quran turun disertai oleh Asbabun Nuzul (sebab/kejadian yang mendasari penurunan ayat). Ayat-ayat yang turun sejauh itu dikumpulkan sebagai kompilasi bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al-Qur'an (bacaan).

Sebagian ayat Al-Qur'an mempunyai tafsir atau pengertian yang izhar (jelas), terutama ayat-ayat mengenai hukum Islam, hukum perdagangan, hukum pernikahan dan landasan peraturan yang ditetapkan oleh Islam dalam aspek lain. Sedangkan sebagian ayat lain yang diturunkan pada Muhammad bersifat samar pengertiannya, dalam artian perlu ada interpretasi dan pengkajian lebih mendalam untuk memastikan makna yang terkandung di dalamnya, dalam hal ini kebanyakan Muhammad memberi contoh langsung penerapan ayat-ayat tersebut dalam interaksi sosial dan religiusnya sehari-hari, sehingga para pengikutnya mengikutinya sebagai contoh dan standar dalam berperilaku dan bertata krama dalam kehidupan bermasyarakat.

Pengikut Awal
Selama tiga tahun pertama sejak pengangkatannya sebagai Rasul, Muhammad hanya menyebarkan Islam secara terbatas di kalangan teman-teman dekat dan kerabatnya, hal ini untuk mencegah timbulnya reaksi akut dan masif dari kalangan bangsa Arab saat itu yang sudah sangat terasimilasi budayanya dengan tindakan-tindakan amoral, yang dalam konteks ini bertentangan dengan apa yang akan dibawa dan ditawarkan oleh Muhammad. Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad pada masa-masa awal adalah para anggota keluarganya serta golongan masyarakat awam yang dekat dengannya di kehidupan sehari-hari, antara lain Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah dan Bilal. Namun pada awal tahun 613, Muhammad mengumumkan secara terbuka agama Islam. Setelah sekian lama banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Amr bin Nufail yang kemudian masuk ke agama yang dibawa Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut dengan As-Sabiqun al-Awwalun atau Yang pertama-tama.

Penyebaran Islam
Sekitar tahun 613 M, tiga tahun setelah Islam disebarkan secara diam-diam, Muhammad mulai melakukan penyebaran Islam secara terbuka kepada masyarakat Mekkah, respon yang ia terima sangat keras dan masif, ini disebabkan karena ajaran Islam yang dibawa olehnya bertentangan dengan apa yang sudah menjadi budaya dan pola pikir masyarakat Mekkah saat itu. Pemimpin Mekkah Abu Jahal menyatakan bahwa Muhammad adalah orang gila yang akan merusak tatanan hidup orang Mekkah, akibat penolakan keras yang datang dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah dan kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin Quraisy yang menentangnya, Muhammad dan banyak pemeluk Islam awal disiksa, dianiaya, dihina, disingkirkan dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat Mekkah.

Walau mendapat perlakuan tersebut, ia tetap mendapatkan pengikut dalam jumlah besar, para pengikutnya ini kemudian menyebarkan ajarannya melalui perdagangan ke negeri Syam, Persia, dan kawasan jazirah Arab. Setelah itu, banyak orang yang penasaran dan tertarik kemudian datang ke Mekkah dan Madinah untuk mendengar langsung dari Muhammad, penampilan dan kepribadiannya yang sudah terkenal baik memudahkannya untuk mendapat simpati dan dukungan dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini menjadi semakin mudah ketika Umar bin Khattab dan sejumlah besar tokoh petinggi suku Quraisy lainnya memutuskan untuk memeluk ajaran islam, meskipun banyak juga yang menjadi antipati mengingat saat itu sentimen kesukuan sangat besar di Mekkah dan Medinah. Tercatat pula Muhammad mendapatkan banyak pengikut dari negeri Farsi (sekarang Iran), salah satu yang tercatat adalah Salman al-Farisi, seorang ilmuwan asal Persia yang kemudian menjadi sahabat Muhammad.

Penyiksaan yang dialami hampir seluruh pemeluk Islam selama periode ini mendorong lahirnya gagasan untuk berhijrah (pindah) ke Habsyah (sekarang Ethiophia). Negus atau raja Habsyah, memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekkah. Muhammad sendiri, pada tahun 622 hijrah ke Yatsrib, kota yang berjarak sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekkah.

Hijrah ke Madinah
Masyarakat Arab dari berbagai suku setiap tahunnya datang ke Mekkah untuk beziarah ke Bait Allah atau Ka'bah, mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan dalam kunjungan tersebut. Muhammad melihat ini sebagai peluang untuk menyebarluaskan ajaran Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan ajarannya ialah sekumpulan orang dari Yatsrib. Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang yang telah terlebih dahulu memeluk Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi para pemeluk Islam dan Muhammad dari kekejaman penduduk Mekkah.

Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yatsrib datang lagi ke Mekkah, mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu sebelumnya. Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum menganut Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yastrib dikarenakan situasi di Mekkah yang tidak kondusif bagi keamanan para pemeluk Islam. Muhammad akhirnya menerima ajakan tersebut dan memutuskan berhijrah ke Yastrib pada tahun 622 M.

Mengetahui bahwa banyak pemeluk Islam berniat meninggalkan Mekkah, masyarakat jahiliyah Mekkah berusaha mengcegahnya, mereka beranggapan bahwa bila dibiarkan berhijrah ke Yastrib, Muhammad akan mendapat peluang untuk mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah yang jauh lebih luas. Setelah selama kurang lebih dua bulan ia dan pemeluk Islam terlibat dalam peperangan dan serangkaian perjanjian, akhirnya masyarakat Muslim pindah dari Mekkah ke Yastrib, yang kemudian setelah kedatangan rombongan dari Makkah pada tahun 622 dikenal sebagai Madinah atau Madinatun Nabi (kota Nabi).

Di Madinah, pemerintahan (kekhalifahan) Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad. Umat Islam bebas beribadah (salat) dan bermasyarakat di Madinah, begitupun kaum minoritas Kristen dan Yahudi. Dalam periode setelah hijrah ke Madinah, Muhammad sering mendapat serangkaian serangan, teror, ancaman pembunuhan dan peperangan yang ia terima dari penguasa Mekkah, akan tetapi semuanya dapat teratasi lebih mudah dengan umat Islam yang saat itu telah bersatu di Madinah.

Kembali ke Mekah
Tahun 629 M, tahun ke-8 H setelah hijrah ke Madinah, Muhammad berangkat kembali ke Makkah dengan membawa pasukan Muslim sebanyak 10.000 orang, saat itu ia bermaksud untuk menaklukkan kota Mekkah dan menyatukan para penduduk kota Mekkah dan madinah. Penguasa Mekkah yang tidak memiliki pertahanan yang memadai kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa perlawanan, dengan syarat kota Mekkah akan diserahkan tahun berikutnya. Muhammad menyetujuinya, dan ketika pada tahun berikutnya ketika ia kembali, ia telah berhasil mempersatukan Mekkah dan Madinah, dan lebih luas lagi ia saat itu telah berhasil menyebarluaskan Islam ke seluruh Jazirah Arab.

Muhammad memimpin umat Islam menunaikan ibadah haji, memusnahkan semua berhala yang ada di sekeliling Ka'bah, dan kemudian memberikan amnesti umum dan menegakkan peraturan Islam di kota Mekkah.

Mukjizat
Seperti Nabi dan Rasul sebelumnya, Muhammad diberikan irhasat (pertanda) akan datangnya seorang Nabi, seperti yang diyakini oleh umat Muslim telah dikisahkan dalam beberapan kitab suci agama samawi, dikisahkan pula terjadi pertanda pada masa di dalam kandungan, masa kecil dan remaja. Muhammad diyakini diberikan mukjizat selama kenabiannya.

Umat Muslim meyakini bahwa Mukjizat terbesar Muhammad adalah Al-Qur'an, yaitu kitab suci umat Islam. Hal ini disebabkan karena kebudayaan Arab pada masa itu yang masih barbar dan tidak mengenal peradaban, namun oleh Al-Qur'an hal itu berubah total karena Qur'an membawa banyak peraturan keras yang menegakkan dasar-dasar nilai budaya baru di dunia Arab yang sebelumnya tidak berperadaban serta mengeliminasi akar-akar kejahatan sosial yang mengakar di dunia Arab, serta pada masa yang lebih dekat mengantarkan pemeluknya meraih tingkat perabadan tertinggi di dunia pada masanya.

Mukjizat lain yang tercatat dan diyakini secara luas oleh umat Islam adalah terbelahnya bulan, perjalanan Isra dan Mi'raj dari Madinah menuju Yerusalem dalam waktu yang sangat singkat. Kemampuan lain yang dimiliki Muhammad adalah kecerdasan serta kepribadiannya yang banyak dipuji serta masih menjadi panutan para pemeluk Islam hingga saat ini.

Ciri Fisik
Sosok Muhammad digambarkan oleh salah satu istinya Aisyah, sepupunya Ali bin Abi Thalib, para sahabatnya, serta orang terakhir yang masih hidup yang kala itu sempat melihat sosoknya secara langsung, yaitu Abu Taufik adalah rambut ikal berwarna sedikit kemerahan terurai hingga bahu. Kulit putih kemerah-merahan, wajah cenderung bulat dengan mata hitam dan bulu mata panjang. Tidak berkumis dan berjanggut sepanjang sekepalan telapak tangannya. Tulang kepala besar dan bahu lebar. Berperawakan sedang dan atletis. Jemari tangan dan kaki tebal dan lentik memanjang.

Langkahnya cenderung cepat dan tidak pernah menancapkan kedua telapak kaki dan dengan langkah yang cepat dan pasti. Muhammad dicirikan sangat unik oleh para sahabatnya. Muhammad digambarkan sebagai orang yang berkulit putih dan berjenggot hitam dengan uban. Dalam hadits lain diterangkan mengenai corak fisik Muhammad, yaitu ia bertubuh sedang, kulitnya berwarna cerah tidak terlalu putih dan tidak pula hitam. Rambutnya berombak. Ketika Muhammad wafat uban yang tumbuh di rambut dan janggutnya masih sedikit.

Ali menambahkan bahwa Muhammad memiliki rambut lurus sedikit berombak. Tidak gemuk dan tidak terlalu besar, berperawak baik dan tegak. Warna kulit cerah, matanya hitam dengan bulu mata yang panjang. Persendian tulang yang kuat dada, tangan dan kakinya kekar. Tidak memiliki bulu yang tebal tetapi hanya tipis dari dada sampai pusarnya. Jika berbicara dengan seseorang, maka ia akan menghadapkan wajahnya keorang tersebut dengan penuh perhatian. Di antara bahunya ada tanda kenabian. Muhammad orang yang baik hatinya dan paling jujur, orang yang paling dirindukan dan sebaik-baiknya keturunan. Siapa saja yang mendekati dan bergaul dengannya maka akan langsung merasa terhormat, khidmat, menghargai dan mencintainya.

Hidungnya agak melengkung dan mengkilap jika terkena cahaya serta tampak agak menonjol jika pertama kali melihatnya padahal sebenarnya tidak. Berjanggut tipis tapi penuh rata sampai pipi. Mulutnya sedang, giginya putih cemerlang dan agak renggang. Pundaknya bagus dan kokoh, seperti dicor perak. Anggota tubuh lainnya normal dan proporsional. Dada dan pinggangnya seimbang dengan ukurannya. Tulang belikatnya cukup lebar, bagian-bagian tubuhnya tidak tertutup bulu lebat, bersih dan bercahaya. Kecuali bulu halus yang tumbuh dari dada hingga pusar.

Lengan dan dada bagian atas berbulu. Pergelangan tangannya cukup panjang, telapak tangannya agak lebar serta tangan dan kakinya berisi, jari-jari tangan dan kaki cukup langsing. Jika berjalan agak condong kedepan melangkah dengan anggun serta berjalan dengan cepat dan sering melihat ke bawah dari pada ke atas. Jika berhadapan dengan orang maka ia memandang orang itu dengan penuh perhatian dan tidak pernah melototi seseorang dan pandangannya menyejukkan. Selalu berjalan agak di belakang, terutama jika saat melakukan perjalanan jarak jauh dan ia selalu menyapa orang lain terlebih dahulu.

Dari kisah Jabir bin Samurah meriwayatkan bahwa Muhammad memiliki mulut yang agak lebar, di matanya terlihat juga garis-garis merahnya, serta tumitnya langsing. Jabir (ra) juga meriwayatkan bahwa ia berkesempatan melihat Muhammad di bawah sinar rembulan, ia juga memperhatikan pula rembulan tersebut, baginya Muhammad lebih indah dari rembulan tersebut. Abu Ishaq mengemukakan bahwa, Bara’a bin Aazib pernah berkata, bahwa rona Muhammad lebih mirip purnama yang cerah.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Muhammad sangatlah rupawan, seperti dibentuk dari perak. Rambutnya cenderung berombak dan Abu Hurairah belum pernah melihat orang yang lebih baik dari dan lebih tampan dari Muhammad, rona mukanya secemerlang matahari dan tidak pernah melihat orang yang secepatnya. Seolah-olah tanah digulung oleh langkah-langkah Muhammad jika sedang berjalan. Dikatakan jika Abu Hurairah dan yang lainnya berusaha mengimbangi jalannya Muhammad dan nampak ia seperti berjalan santai saja.

Jabir bin Abdullah mengatakan, Muhammad pernah bersabda bahwa ia pernah menyaksikan gambaran tentang para nabi. Di antaranya adalah Musa berperawakan langsing seperti orang-orang dari Suku Shannah, dan melihat Isa yang mirip salah seorang sahabatnya yang bernama Urwah bin Mas’ud dan ketika melihat Ibrahim dikatakan sangat mirip dengan dirinya sendiri (Muhammad), kemudian Muhammad juga mengatakan bahwa ia pernah melihat Malaikat Jibril yang mirip dengan Dehya Kalbi. Said al Jahiri mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Taufik berkata bahwa pada saat ini tidak ada lagi yang masih hidup orang yang pernah melihat secara langsung Muhammad kecuali dirinya sendiri dan Muhammad memiliki roman muka sangat cerah dan perawakanna sangat baik. Ibnu Abbas mengatakan bahwa gigi depan Muhammad agak renggang tidak terlalu rapat dan jika bericara nampak putih berkilau. (sumber: Wikipedia)

Sumber : Berita Musi